Selasa, 06 Maret 2012

Keindahan Goa Gong Pacitan, Istana Tujuh Ruang

Bentuknya tidak seperti gong, tapi begitu beberapa stalakmit kristal dipukul, suara gong pun langsung memekakkan telinga. Itulah pesona dari Goa Gong, satu dari banyak goa di Kabupaten Pacitan di Jawa Timur. Tidak mengherankan daerah ini disebut ”Kota Seribu Goa”.
Goa Gong dengan kedalaman 300 meter itu merupakan salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Pacitan. Goa ini diklaim banyak pihak sebagai goa yang memiliki stalaktit dan stalakmit terbaik dan terindah di Asia Tenggara.
Goa memang menjadi obyek wisata paling diandalkan Pacitan. Itu sebabnya, banyak pihak mengatakan belum lengkap rasanya jika ke Pacitan belum menyusuri Goa Gong, dan Goa Tabuhan.
Goa Gong berada di perbukitan kapur yang terletak di Desa Bomo, Kecamatan Punung, sekitar 38 kilometer dari Kota Pacitan. Jalan menuju goa sangat mulus sehingga dapat dilalui kendaraan roda empat.
Meski begitu, Anda harus tetap waspada, karena jalan menuju goa berkelok-kelok tajam dan berjurang. 
Dari Surabaya ke Pacitan, ujung selatan Jawa ini menyita waktu perjalanan sekitar enam jam. Jika melalui Yogyakarta atau Solo, dapat ditempuh selama tiga jam.
Medan yang berat dan melelahkan akan sirna begitu memasuki goa dengan menggunakan senter yang biasanya dibawa pemandu wisata. Mata pun langsung terpana begitu melihat pemandangan yang menakjubkan berupa batuan kapur stalaktit dan stalakmit yang terbentuk secara alami menghiasi seluruh dinding dan langit goa.
Panorama dalam goa begitu pesona. Pemandangan bertambah indah ketika batu disiram oleh cahaya lampu, sekaligus untuk penerangan jalan mengitari goa sepanjang 600 meter. Untuk mengitari kawasan goa, sudah ada jalan setapak pagar besi yang menghubungkan satu ruang dengan ruang lain.
Stalaktit dan stalakmit dengan ukuran beragam terlihat menjulang dan kokoh menempel di lantai atau langit goa. Ruang dalam goa sangat besar. Menurut Warti (38), pemandu wisata, stalaktit dan stalakmit terus tumbuh dan makin panjang. Paling tidak dalam setahun bisa bertambah tiga sentimeter.
Tidak perlu khawatir ketika menyusuri perut goa, karena di dalam goa sudah tersedia jalur penyusuran sedemikian rupa agar pengunjung aman dan nyaman. Trek menurun dan sesekali curam membuat para pengunjung harus ekstra hati-hati karena ada titik yang basah sehingga rawan terpeleset. Di beberapa sudut terdapat kipas angin ukuran besar, untuk mencairkan hawa goa yang lembap.
Para pengunjung juga akan ditemani 20 pemandu jalur dari warga setempat. Mereka juga bertugas menjelaskan seputar sejarah dan hal-hal lain tentang goa tersebut.
Masa prasejarah
Saat memasuki pintu masuk goa, Anda langsung menuruni tangga yang telah disiapkan menuju tujuh ruang yang indah itu. Keheningan dalam goa bertambah khas oleh suara tetesan air dari langit goa. Pemandangan dinding berkilap oleh bias refleksi cahaya pada dinding yang basah. Situasi di dalam goa benar-benar menjadi kesempatan berkelana ke masa prasejarah.
Selain disuguhi stalaktit dan stalakmit yang memesona, daya tarik lain dari Goa Gong adalah terdapat ruang kristal yang begitu indah dan memesona.
Ruang kristal itu, menurut Wakino, dalam bukunya berjudul ”Gua Gong Obyek Wisata Potensial di Kabupaten Pacitan, penemuan goa pertama oleh Mbah Noyosemito dan Mbah Joyorejo pada 1924. Ketika itu Mbah Noyo dan Mbah Joyo masuk ke dalam goa untuk mencari sumber mata air, karena desa mereka sedang dilanda kemarau panjang. Awalnya kedua orang itu mencari sumber air di dalam goa yang berjarak sekitar 400 meter dari permukiman penduduk. Ketika di dalam goa mereka menyusuri lorong goa, mereka menemukan beberapa sendang atau sumber mata air, dan bahkan sempat mandi.
Penemuan sumber air di dalam goa diceritakan kepada warga desa, namun tidak ada yang berani memasuki kawasan goa karena dianggap masih wingit atau angker. Cerita penemuan sumber air di dalam goa terus diulang, sehingga pada 5 Maret 1995, Surahmin (54) bersama sembilan warga lainnya memberanikan diri untuk masuk ke goa tersebut.
Soal nama
Pemberian nama Goa Gong, berhubungan erat dengan salah satu perangkat gamelan jawa. Konon, saat-saat tertentu, di gunung yang terdapat goa tersebut sering terdengar bunyi dari makhluk halus, seperti suara tabhuna gamelan jawa, reog, terbangan, dan suara yang sangat memilukan. Hal itu, papar Wakino, mendorong nenek moyang mereka untuk memberi nama gunung gong-gongan, sehingga menjadi Goa Gong.
Ruang di dalam goa, begitu indah, asri sekaligus unik dengan ukiran alam berupa stalaktit dan stalakmit. Ruang pertama penuh dengan ukiran alam, seakan menyambut dengan ucapan selamat datang. Pintu abadi itu seakan mengajak pengunjung memasuki ruang kedua dengan ukuran luas, dan dilengkapi beberapa sendang, seperti kamar mandi dibuat secara alami.
Dari ruang kedua, pengunjung bisa memandang ke bawah sebagai ruang ketiga, juga dilengkapi sendang dengan air yang jernih. Sepanjang penyusuran, di kiri kanan tampak beberapa lukisan dari batu-batuan yang menggambarkan suatu keagungan Tuhan. Juga banyak batu putih seperti kristal, pertanda goa ini belum dijamah manusia.
Di tengah perjalanan terdapat salah satu lorong goa berwarna kemerahan dan dipasang palang bertanda ”Dilarang Masuk.” Menurut Warti, lorong itu memang sengaja ditutup untuk keselamatan. Lorong itu dalam sekitar 150 meter ke dalam, sehingga untuk masuk saja harus merangkak. Apalagi di dalam goa tidak ada oksigen.
Dahulu kala, warga sekitar percaya tiga sumber air di dalam goa memiliki khasiat tersendiri. Khasiat tersebut antara lain bisa membuang kesialan, jampiraga (jamu) bisa menyembuhkan penyakit. Air berkhasiat itu bisa merukunkan kehidupan rumah tangga. Namun, mitos tersebut menguap ditelan zaman sehingga keindahan goa tetap terjaga hingga kini.
Pada 1996, Pemerintah Kabupaten Pacitan melengkapi Goa Gong dengan pagar pengaman untuk pengunjung di dalam goa, jalan setapak, lampu, serta kipas angin ukuran besar, sehingga selama berada di dalam goa terasa sejuk. Meski sudah dilengkapi fasilitas modern seperti pagar, lampu, dan kipas angin, Goa Gong adalah sebuah maha karya yang menakjubkan dan harus dikunjungi.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar